Semua ini tentang waktu. Waktu yang tak pernah kita tahu. Bagaimanakah aku? Bagaimanakah Kita? Akankah semua terus terjalin? Di sertai jarak yang terhampar dan waktu yang semakin menuntut, apakah itu bisa? Apakah kita mampu?
Spekulasi mengenai 'jarak bukanlah masalah' ketika menjalin sebuah hubungan tidak salah. Itu benar adanya, hanya saja sulit. Sulit untuk dijalani, sulit untuk tidak merindu. Sulit untuk menahan tangis.
Akankah semua masih seerat saat kita bersama? Akankah semua masih semesra saat kita berdua? Akankah semua sama seperti saat kau berada dekat di sisiku? Di saat dengan mudahnya aku memelukmu?
Spekulasi mengenai 'jarak bukanlah masalah' ketika menjalin sebuah hubungan tidak salah. Itu benar adanya, hanya saja sulit. Sulit untuk dijalani, sulit untuk tidak merindu. Sulit untuk menahan tangis.
Akankah semua masih seerat saat kita bersama? Akankah semua masih semesra saat kita berdua? Akankah semua sama seperti saat kau berada dekat di sisiku? Di saat dengan mudahnya aku memelukmu?
Hen, mengapa semuanya sulit?
Ia meremas gemas rambutnya, pikirannya kelut. Tak kuasa menahan semua yang ada di hatinya. Ia sudah lelah menangis, sehingga tak ada air mata yang bergulir sedikitpun saat ini. Tak sama seperti dahulu. Mungkinkah ia lelah? Apa dia sudah muak?
Ia memejamkan matanya. Meraih beberapa pil yang terdapat dalam tabung silinder bertutup merah dan menjejalkannya ke mulut.
Ia memejamkan matanya. Meraih beberapa pil yang terdapat dalam tabung silinder bertutup merah dan menjejalkannya ke mulut.
Ia merebahkan dirinya dengan pelan. Menutupi dirinya dengan selimut tebal dan memejamkan mata. Mencoba untuk terlelap meskipun terdengar suara ketukan pintu yang begitu nyaring, ia tetap tak mau beranjak dan berlagak tuli. Dan ketika suara pintu terbuka ia masih tetap berlagak tuli dan tak peduli, entah siapa yang membukanya ia benar-benar tidak peduli sekalipun itu adalah perampok. Ia benar-benar terlalu malas.
Untungnya hanya gadis berabut panjang yang kini tengah berdiri sambil bercakak pinggang. Namun, Song Kyuchi terlalu keras kepala untuk menoleh.
"Chi..." panggil Choi Riyoung yang melunak. Awalnya ia berniat mengomeli gadis berambut ikal itu habis-habisan tapi ketika melihat keadaannya rasanya tidak mungkin. "Are you okay?" sambungnya lagi.
Kyuchi menghela nafas dengan malas, "Not." Jawabnya padat. Choi Riyoung langsung menghampirinya dan memegang dahi gadis itu. Setika ia mengerjap, "Omo! Kau demam, Chi! Dan aku yakin kau belum makan belakangan ini. Lihat saja dirimu itu, aish!" Ringisnya. Riyoung berencana untuk mengambil air hangat namun langkahnya terhenti ketika melihat pil-pil yang terdapat di atas meja. "Obat tidur, Chi?" ujarnya tak percaya, "Neo, ish! Jeongmal! Aku tak akan membiarkanmu seperti ini terus!"
Ia kembali dari dapur sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan obat-obatan, di lihatnya Kyuchi tengah tertidur pulas. Hati Riyoung menciut. Ia akan tahu bahwa gadis ini akan begini. Ck! Andai saja dulu Riyoung benar-benar berhasil menghalangi hubungan Kyuchi dan Henry pasti Kyuci tidak akan kacau seperti sekarang.
Choi Riyoung meletakkan nampannya di atas meja kecil di samping jendela kamar. Ia berjalan menuju dinding yang di tempel oleh sterofoam berwarna hitam. Di bacanya note-note kecil yang di tempel rapi oleh Kyuchi. Untung jadwal latihan untuk besok di mulai dari pukul empat sore jadi Kyuchi bisa beristirahat lebih lama hari ini.
***
Ding!!!
Lift berdenting di lantai 13, suara sepatu hak tinggi bergema di lorong apartement yang sepit. Langkahnya terhenti di depan pintu yang di penuhi kartu ucapan beserta kado yang dikemas kertas warna warni. Ia tersenyum mengingat dulu, seorang Choi Riyoung pernah melakukan hal seperti ini.
Lift berdenting di lantai 13, suara sepatu hak tinggi bergema di lorong apartement yang sepit. Langkahnya terhenti di depan pintu yang di penuhi kartu ucapan beserta kado yang dikemas kertas warna warni. Ia tersenyum mengingat dulu, seorang Choi Riyoung pernah melakukan hal seperti ini.
Clak!
Pintu di hadapannya terbuka. Riyoung terbelalak melihat kekasihnya. "Eo, youngie!" Seru Donghae kegirangan. Alih-alih balas menyapa Riyoung hanya mendengus, "Ya! Dimana si pipi mochi itu?!" Bentaknya. Donghae menghela nafas dan berjalan masuk diikuti oleh riyoung yang masih kesal. "Molla," Donghae menggedikkan bahunya, "memangnya kenapa?" Sambungnya.
Riyoung menundukan wajahnya, "Kyuchi..." Donghae tersenyum dan memeluk gadisnya, ia sangat paham mengapa Riyoung selalu mengkhawatirkan Kyuchi, karena gadis itulah satu-satunya sahabat baik Riyoung. "Arra... besok kita hubungi Henry sama-sama, ottae? Hari ini aku ada jadwal sayang." Riyoung segera mengangguk dan memeluk kekasihnya, ia bisa memaklumi jadwal manggung Super Junior yang selalu padat, untung saja hari ini Season sedang free jadi ia bisa menjaga Kyuchi.
Riyoung menundukan wajahnya, "Kyuchi..." Donghae tersenyum dan memeluk gadisnya, ia sangat paham mengapa Riyoung selalu mengkhawatirkan Kyuchi, karena gadis itulah satu-satunya sahabat baik Riyoung. "Arra... besok kita hubungi Henry sama-sama, ottae? Hari ini aku ada jadwal sayang." Riyoung segera mengangguk dan memeluk kekasihnya, ia bisa memaklumi jadwal manggung Super Junior yang selalu padat, untung saja hari ini Season sedang free jadi ia bisa menjaga Kyuchi.
Tiba-tiba ponsel Riyoung melantunkan lagu Mama Cita. Nama Kyuchi tertera jelas di layarnya, seketika Riyoung digerayangi perasaan yang tidak enak.
"Yeoboseyo, Kyuchi-ah! Gwenchana?" "Young...ie-ah..." Suara Kyuchi parau di sebrang sana.
"Yeoboseyo, Kyuchi-ah! Gwenchana?" "Young...ie-ah..." Suara Kyuchi parau di sebrang sana.
-tbc-
Hai hai hai!! finnally bisa ngepost lagiiiii hehehe maaf ya sudah hiatus lama bgt. Insya allah bisa ngepost rutin^^ anyway pls enjoy what i write here ga maksa kalian untuk ninggalin komentar ko udah ada yang baca aja bersyukur hihi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar