"Kau sudah bangun, Sayang?" Ujar seorang pria yang tengah duduk di samping tempat tidur bersepraikan putih, wajahnya terlihat lesu dengan mata sipit yang sembab, penampilannya sangat buruk untuk hari ini.
Gadis yang baru terbangun dari komanya hanya menatap bingung dengan lingkungan sekitarnya, dan matanya terpaku menatap pria di sampingnya. "Kau siapa?" Tanyanya dengan wajah waspada. Pria di sampingnya hanya tersenyum dengan penuh rasa cinta, ia sangat paham jika wanita di sampingnya ini tidak mengenalinya.
"Aku... Adalah... Seorang teman." ucapnya dengan penuh kepahitan.
"Teman?" Tanya gadis itu bingung. Pria di sampingnya mengangguk sambil tersenyum, "Ya, teman. Agar kau tidal.merasa kesepian." Jawabnya sambil menggenggam tangan gadis. Gadis di sampingnya tersenyum, "Terima Kasih, anda begitu baik." Ucapnya manis.
Pria di sampingnya mengangguk sambil membalas senyuman manis gadis di sampingnya. Oh betapa ia sangat merindukan senyuman itu. Air mata sudah menggenang di pelupuknya, dengan tenang ia tahan agar air mata itu tidak mengalir di pipinya.
"Maukah aku antar untuk berkeliling? Mencari udara segar?" Tanya pria itu. Wanita di sampingnya mengangguk mengiyakan.
Pria itu menuntunnya dengan perlahan. Wanita itu memerhatikan segala sesuatunya dari rumah itu hingga tibalah mereka di halaman belakang.
Mereka duduk berdampingan di bangku kayu Ek tua di punggir danau, "Rasanya... aku... melupakan sesuatu..." Ujar wabita itu dengan ragu. Pria di sampingnya tersenyum, "Benarkah?" tanyanya, dan wanita itu mengangguk "Oh iya, aku akan menceritakan sebuah kisah." Lanjut sang pria, wanita berambut ikal ini menoleh dan membulatkan mata besarnya yang indah, "Benarkah? Kisah tentang apa?"
"Ini adalah sebuah kisah tentang Cinta...."
.
.
.
.
Bel sekolah berdering nyaring diiluti dengan suara gelak tawa siswa-siswi yang berhamburan keluar dari kelasnya. Rupanya Liburan musim panas sudah di mulai. Cordelia song atau kerap di panggil Song Kyuchi oleh teman-temannya berjalan menuju perpustakan dengan setumpuk buku di lengannya. Gadis itu berjalan hati-hati menjaga agar buku-buku berat itu tidak jatuh.
"Ah! Tinggal belok ke kiri dan sebentar lagi sampai, Chi. Semangat!" Batinnya mencoba untuk menghibur diri.
BRAK!!!
Ia memabrak sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang. Buku-buku yang ia bawa berhamburan di lantai sekolahnya. Mau tidak mau ia haris membereskan semua itu, sangat melelahkan.
"Mianhae... Aku tidak melihat." Ujar suara seorang lelaki. Kyuchi masih terduduk akibat terpelanting saat bertabrakan tadi, gadis itu mendongak menatap laki-laki yang baru saja menabraknya.
Dan pada saat itu hatinya mulai berdebar kencang.
"Tidak apa-apa." Jawabnya singkat sambil memalingkan wajahnya dengan cepat. Gadis itu menyibukkan diri dengan merapikan buku-bukunya kembali.
Laki-laki itu membungkuk, membantu Kyuchi dengan buku-bukunya. Melihat Kyuchi membawa buku-buku yang berat ini membuatnya merasa tidak tega.
"Biar aku bawakan sisanya, apa kau keberatan jika aku membantumu?" tanya laki-laki itu.
Song Kyuchi terdiam, entah mengapa pipinya terasa memanas "Jika kau tidak keberatan.." Jawabnya pelan, nyaris menyerupai bisikan.
"Aku Henry. Henry Lau. Kau pasti Song Kyuchi,"
Matanya membulat. Bagaimana bisa ia.mengetahui namaku?
Song Kyuchi mengangguk pelan, dan kemudian mereka berjalan menuju perpustakaan dalam diam.
Suara ponsel Kyuchi membelah keheningan di antara keduanya, dengan cepat Kyuchi mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Ah, Young-ah. Wae?"
"Chi-ya, apa kau masih lama?" Tanya Choi Riyoung di sebrang sana.
"Umh, aku rasa begitu. Maaf membuatmu menunggu," Sesalnya.
"It's okay, Chi. Tapi apa boleh aku pulang lebih dulu hari ini? Aku ada kencan."
"Oh, Arraseo. Tidak apa-apa, Young-ah. Kalau begitu hati-hati di jalan."
"Eo! Gomawo Chi-ah, Saranghae! ㅋㅋ"
Bip!
Kyuchi menutup panggilannya dan kembali merapikan buku, memasukkannya ke dalam rak. "Apa kau di tinggal oleh temanmu?" Henry memulai percakapan. Kyuchi mengangguk, "Ya. dia ada kencan. Jadi aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi" Jawabnya sambil tersenyum. "Bagaimana denganmu? Apa teman-temanmu tidak merasa bosan menunggumu?" Tanya gadis itu.
"Tidak. Aku sendirian. Sebetulnya aku akan pergi menuju ruang olahraga, tapi tidak sengaja menabrakmu. Maaf," Ujarnya panjang lebar. Kyuchi tersenyum, "Gwenchana. Lagi pula kau juga sudah membantuku. Harusnya aku berterima kasih."
Henry menatap Kyuchi diam-diam. Gadis itu mempunyai mata bulat yang indah, rambut ikal hitam yang panjang dan kulit seputih susu. Gadis ini begitu...
"Ah! Sudah selesai." Serunya. Lamunan Henry buyar dengan cepat ia memalingkan wajah, takut-takut Kyuchi memergoki dirinya yang sedang memerhatikan dirinya. "Um, Terima kasih sudah membabtuku, Henry-ssi." Ucap Kyuchi malu-malu. Henry memasang senyumnya yang mampu membuat hati Kyuchi berdebar dua kali lebih cepat, "Itu adalah permibtaan maafku, kau tidak perlu berterima kasih." Balasnya sambil menggaruk tengkuknya dengan kikuk. "So, kau pulang sendiri hari ini?" Tanya Henry.
Kyuchi mengangguk canggung. "Mau... Pulang bersama-sama denganku? Tawarnya, seketika mata Kyuchi kembali membulat, "Ne?" Ujarnya dengan cepat. Atmosfer di ruang perpustakaan itu menjadi canggung. Keduanya menjadi salah tingkah.
Henry tergaga, "Maksudku, aku akan mengantarmu pulang, jika kau tidak keberatan tentunya. Lagi pula, rumah kita satu arah bukan?" Ulang Henry dengan susah payah menahan rasa gugupnya. Kyuchi terdiam menimang-nimang, "Um.. Baiklah. Ayo kita pulang." Jawabnya yang langsung membuat senyuman di wajah Henry merekah.
Keduanya berjalan beriringan menuju tempat pemberhentian bis yang tidak terlalu jauh dari sekolah mereka. Henry dan Kyuchi mulai bercakap-cakap mengenai diri mereka masing-masing. Ternyata Henry adalah murid pindahan dari Canada bulan lalu, pantas saja Kyuchi tidak pernah melihatnya sebelumnya. Mata Henry berubah bentuk seperti bulan sabit ketika ia tertawa, hal itu membuatnya terlihat semakin manis di mata Kyuchi. Dan Kyuchi, gadis iti mempunyai senyum seperti musim semi, yang mampu mencairkan hati siapapun yang ada di dekatnya, gadis ini sangatlah cantik.
Tanpa kedua remaja itu sadari, mereka sudah merasakan ada sesuatu yang janggal dalam hati masing-masing. Perasaan yang dapat membuat hati mereka bergetar dan bahagia, mereka terus bercakap-cakap sampai bis yang mereka tunggu telah tiba.
Henry mempersilahkan Kyuchi agar naik terlebih dahulu, dan mereka mengambil kursi kosong di belakang. Kyuchi duuk di samping Henry dengan nyaman, entah mengapa laki-laki ini bisa membuatnya merasa lebih senang. "Jadi, apa yang akan kau lakukan saat liburan musim panas nanti?" tanya Henry. Kyuchi memirigkan kepalanya, berfikir, "Entahlah, aku rasa aku akan menghabiskan liburanku di rumah. Ya, hanya sekedar bersantai, membaca novel, atau sesekali pergi ke taman untuk melukis. Kalau kau?"
"Sepertinya aaku akan menghabiskan liburanku untuk berjalan-jalan mengelilingi seoul. Aku belum tahu banyak tempat-tempat yang bagus disini." Jawabnya.
Kyuchi mengangguk mengiyakan. Dan mereka kembali terdiam.
Henry terdiam dengan pikirannya. Sebenarnya ia sangat ingin meminta nomer ponsel Kyuchi namun, pria itu sedikit canggung, "Ah, Henry-ssi. Sebentar lagi aku akan turun." Ucapan Kyuchi membuyarkan lamunan Henry, "Ne?" Spontan Henry, "Ah.. Baiklah..." Balasnya. Kyuchi beranjak dari duduknya hendak bersiap untuk turun. Sedangkan Henry masih terdiam di tempatnya linglung. Ia hanya menatap punggung Kyuchi yang menjauh. Ketika pintu bis sudah terbuka, Kyuchi melambaikan tangan ke arahnya. Ketika gadis itu telah menapak keluar bis barulah Henry tersadar.
Kyuchi berjalan dengan enggan menuju rumahnya sebetulnya ia masih ingin berbincang-bincang dengan Henry. Tapi.... Ah! Sudahlah!
"Song Kyuchi!"
Langkah Kyuchi terhenti. Jantungnya kembali berdebar. Wajahnya memerah. Ia membalikan tubuhnya dan mendapati Henry lau yang sedang berlari kecil menghampirinya. Gadis itu terdiam gugup. "Kau... Mengapa mengikutiku?" Tanyanya dengan suara yg sedikit bergetar. Henry menggaruk kepalanya, kikuk. "Um... Aku ingin..." Gugup telah merambat ke lidahnya yang berubah menjadi kelu seketika, "Aku... Aku ingin..."
"Ne?" Desak Kyuchi tidak sabar. "Aku ingin meminta nomor ponselmu." Ucapnya dengan cepat. Kyuchi dapat melihat wajah Henry yang memerah. Ah! Manis sekali.
Henry menekan-nekan tombol sesuai dengan yang di ucapkan Kyuchi, kemudian ia menekan tombol dial. Kyuchi tersenyum melihat nomor ponsel Henry yang tertera di layar ponselnya. "Sudah masuk," Ucap Kyuchi.
"Ah iya, fotomu," Kyuchi membulatkan matanya, merasa terkejut saat Henry mengambil gambarnya, padahal ia belum siap sama sekali, "Mwo?! Ya! Aku belum siap!" Gerutu gadis itu. Henry tertawa renyah, "Tidak. Kau sungguh lucu." Ujarnya sambil tertawa. "Lucu?! Aku bahkan belum siap!" Gerutu gadis itu, "Biarkan aku melihatnya, Henry-ssi!" Kyuchi mencoba merebut ponsel milik Henry, namun tak ia berika. Henry terus tertawa sambil menggenggam ponselnya tinggi-tinggi, "Yak!! Biarkan aku melihatnya" Ujar Kyuchi lagi. "Ambil ini kalau bisa..." Ejeknya, "Ayo ambil-ambil..." Henry melangkah mundur menghindari Kyuchi yang berusaha mendekatinya. "Yak! Henry lau, hentika... AHH!"
BRUK!
Kaki Kyuchi tersandung dan tidak sengaja menabrak Henry yang berada di hadapannya. Kyuchi jatuh tepat di atas Henry. Dari atas sini Kyuchi bisa melihat wajah Henry dengan jelas dan detail. Kyuchi tenggelam ketika menatap manik mata Henry, tak ia sangka, mata sipit itu mempunyai mata berwarna coklat yang hangat.
TINTIN!!
Suara klakson bis yang menyadarkan lamunannya, dengan cepat ia bangun dari jatuhnya, "Mi.. Mian.." Ucapnya pelan. Henry masih terdiam sambil.menatap Kyuchi dengan tatapan yang tak ia gadis itu artikan, "Eung, Henry..." Panggil Kyuchi sambil melambaikan tangan di depan wajahnya. Mata sipit Henry mengerjap, "Ah! Iya. It's Ok, Chi." Ujarnya cepat.
Keduanya merasa sangat canggung dan gugup. "Um... Kalau begitu aku pulang dulu, Chi." Ujar Henry pelan. Kyuchi mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya malu-malu, "Sampai nanti, Song Kyuchi...." Pamit Henry. Kyuchi balas tersenyum sambil menatap punggung Henry yang menjauh, dengan enggan ia kembali melanjutkan langkah kakinya.
Entah mengapa sore itu terasa sangat indah bagi Henry ataupub Kyuchi. Sebuah senyuman yang merekah menemani mereka di perjalanan pulang. Rasanya keduanya tak akan tidak bisa tidur malam nanti. Hari ini terlalu indah untuk berakhir.
.
.
.
.
Seorang wanita paruh baya menepuk pundak lelaki yang tengah memerhatikan wanitanya dengan haru. "Apa dia belum menyadarinya?" Tanyanya. Lelaki di samoingnya menoleh, "Aku rasa, aku harus menceritakannya lebih jauh," Jawabnya dengan nada kesedihan yang terlihat dengan jelas. Wanita paruh baya itu meremas bahunya, "Bersabarlah, Nak. Tuhan pasti memberi jalan. Kejarlah hatinya sampai ia kembali dalam pelukmu."
Lelaki itu hanya tersenyum berterima kasih. Tatapannya kembali terarah pada gadis itu... Gadis yang menatap kearah kanvas putih yang berada di hadapannya dengan bingung.
Ada yang hilang...
Rasanya ada yang hilang...
Dan kepingan yang hilang itu sangatlah penting...
Ada yang hilang...
-To Be Continue-
Hi everybody!! Saya kembali dengan cerita yang baru. Well, sebenarnya cerita ini terinspirasi dari sebuah film. Dan semoga kalian suka hehe ^^ maaf maaf kalau agak bahkan memang gak jelas, dan kalau dari segi tulisannya kurang rapi haral maklum ya soalnya pengetikannya melalui ponsel jadi agak sulit hehe Dan insya allah saya akan mempost-ing lanjutannya 2 hari kedepan *Itu juga kalo gak mandek wkwk* Happy read anyone :) Rajin-rajin main k blog ku ya :) aku gak maksa kalian untuk memberi komentar pada tulisan-tulisan yang aku post di blogku ini, udah ada yang baca ceritaku saja aku sudah bersyukur :) So, makasih banyak yang udah main ke blog ku ini semoga kalian g bosen-bosen main kesini ^^
WARNING!!
-TYPO IS EVERYWHERW
-THIS FANFICTION/STORY IS MINE. SO, JANGAN PLAGIAT OR COPY-PASTE. HARGAI KARYA ORANG LAIN :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar